Di dunia, perjuangan #AkhiriFemisida sudah berlangsung sejak era feminisme gelombang kedua di 1970an. Perjuangan ini merespon praktik femisida yang telah terjadi beratus-ratus tahun sebelumnya. Perburuan penyihir perempuan di Eropa misalnya, terjadi sekitar abad ke 15 – 18. Sementara itu, praktik honor killing di berbagai area terhadap perempuan yang dianggap telah mencoreng “kehormatan” keluarga marak terjadi di abad 18 Sebelum Masehi.
Di Indonesia, Jakarta Feminist menemukan setiap dua hari ada satu perempuan yang menjadi korban femisida. Sayangnya, alih-alih berpihak pada korban, masyarakat justru rawan terjebak dalam objektivikasi dan reviktimisasi korban femisida. Di beberapa kasus, publik melakukan siaran langsung selama evakuasi korban berlangsung dan mengunggahnya di media sosial tanpa sensor. Di saat yang bersamaan, pemberitaan daring acap kali menyederhanakan kasus femisida menjadi kisah romansa, kisah perjuangan cinta, atau “tragedi” orang ketiga. Tak jarang, motif pelaku justru jadi justifikasi bagi publik menormalisasi tindakan femisida.
Atas semua itu, Jakarta Feminist berupaya menggalang dukungan dari kawan-kawan jurnalis untuk bergabung dalam perjuangan #AkhiriFemisida di Indonesia. Zine Minerva: Bersama #AkhiriFemisida dipilih sebagai medium refleksi 16 jurnalis di Bandung dan sekitarmya. Kumpulan zine yang terkurasi memuat berbagai renungan dan imaji terkait peran jurnalis dalam #AkhiriFemisida. Pembaca diajak merasakan berbagai emosi marah, sedih, kecewa, yang semua bermuara menjadi satu semangat solidaritas. Secara keseluruhan, zine ini merupakan call to action bagi kita semua, utamanya para jurnalis, dalam mengambil sikap untuk menghentikan budaya kekerasan yang berujung femisida lewat liputan yang berpihak pada korban.
Baca Zine Minerva: Bersama #AkhiriFemisida di sini
Semoga semangat, harapan, dan kasih selalu memberi kita kekuatan untuk terus melawan dan menciptakan ruang aman bagi semua!
Salam solidaritas,
Tim Komunikasi Jakarta Feminist
