
Tak ada yang lebih tangguh dari para perempuan pesisir yang mengusap peluh, dirahasiakannya rintik keluh di balik baju lusuh demi seulas senyum yang senantiasa berlabuh. Potret ketangguhan perempuan pesisir muncul di antara semarak acara International Cultural Arts Space Festival (ICAS) yang diadakan oleh program Pascasarjana Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung pada 22 September 2021. Meski telah empat tahun berlalu, bagian ini tetap saja menarik untuk ditelisik.
Kali ini, kemunculan Perempuan pesisir tampak berbeda. Jika biasanya ia muncul dari suara debur ombak tepi pantai, maka kali ini ia hadir dari layar besar. Semua ini terpaksa terjadi sebab pandemi tak kunjung pergi⸻kala itu. Meskipun demikian, lewat film berjudul Siluet Perempuan Pesisir, ketangguhan perempuan pesisir tetap saja menggetarkan hati.

Visualisasi dibuka dengan pembacaan sinopsis dengan gaya bahasa yang puitis. Dari sekian baris narasi yang tersaji, kalimat paling menohok secara personal adalah “Kuat namun halus, perkasa namun lembut”. Kalimat ini menggambarkan dengan jelas mayoritas karakteristik perempuan pesisir. Mereka mungkin terkesan halus dan lembut, tapi untuk banyak momen-momen, perempuan pesisir juga kuat dan perkasa. Sisi feminin sekaligus maskulin saling mengisi, bukti bahwa kekuatan dan keperkasaan tidak mustahil ada di perempuan. Lebih lanjut, tidak ada yang salah dari perempuan maskulin. Hal yang sama juga berlaku bagi laki-laki memiliki sisi feminin. Dengan kata lain, kekuatan tidak terikat dengan jenis kelamin tertentu, sebagaimana yang sistem viriarki konstruksikan.
Seperti judulnya, poster film ini menampilkan siluet perempuan berdiri di tepi Pantai. Di belakangnya ada bayang-bayang siluet seorang lelaki yang melempar jala. Bagi saya secara personal, visualisasi tersebut menyiratkan kisah perempuan pesisir yang berbagi peran dengan laki-laki dalam menapaki hari-hari yang terkadang sunyi. Dengan apik, siluet ini menyentuh kritik terhadap sistem viriarki yang selama ini menjeruji upaya-upaya kesetaraan lewat konstruksi peran biner antara domestik-publik. Norma gender saat ini percaya perempuan lebih baik di dalam rumah. Sementara itu, laki-laki bertugas di luar rumah untuk menjamin kelangsungan hidup perempuan. Film Siluet Perempuan Pesisir agaknya ingin menunjukkan kontra narasi dari konstruksi tradisional tersebut, mendobrak norma-norma yang membelenggu.

Tak hanya dari visual siluet dan narasi puitis, ketangguhan perempuan pesisir juga dipotret melalui sorot matanya kala berdiri di depan pantai lalu melirik ke arah kamera dengan tajam dan dalam, seolah berkata, “Jangan meremehkanku! Aku mampu melakukan semuanya. Tenang saja.” Scene yang juga kuat ialah ketika perempuan pesisir duduk di tepi pantai sembari bermain dengan pasir, ada samar-samar bayangan seorang perempuan yang sedang membersihkan ikan-ikan untuk diperjualbelikan. Scene ini memvisualisasikan bahwa perempuan tak hanya mampu menyiapkan masakan di rumah, tetapi juga tangkas dalam mencari nafkah. Jari-jari kecil perempuan yang dibingkai tidak bisa “bekerja kasar” nyatanya cekatan mengelola ratusan ikan-ikan tangkapan nelayan. Saya percaya setiap mata membawa ‘suara’. Di pesisir, mata perempuan tidak selalu teduh dan sejuk seperti yang divisualisasikan majalah dan iklan di TV. Mata tajam perempuan pesisir mengoyak dikotomi gender.
Suara Laki-Laki yang Membacakan Puisi
Bagian menarik lainnya dari film Siluet Perempuan Pasir adalah suara laki-laki membacakan beberapa baris puisi sebagai pengiring penampilan siluet dua orang laki-laki yang hendak melemparkan jaring ke lautan. Suara pembaca puisi yang sedikit serak sekaligus sendu memberikan kesan syahdu. Sayangnya, iringan musik dan suara bas pembaca puisi yang terlalu tinggi membuat beberapa kata tak bisa terdengar dengan jelas. Misalnya pada baris pembuka puisi yang berbunyi, “kulemparkan jaring-jaring ini ke kedalaman lautan, berharap menembus batas (…….) harapan di dunia”. Tepat pada bagian yang bertanda kurung tersebut, terdapat kata yang terdengar secara samar. Meskipun rekamannya didengarkan berulang-ulang kali, antara kata ‘langkah’, ‘lembah’, atau sejenisnya tetap saja terdengar sayup-sayup.
Suara laki-laki yang membacakan puisi memikat untuk ditelisik. Pasalnya, seperti judul dan narasinya, film ini seyogianya menceritakan perjuangan perempuan. Pun ada laki-laki mereka merupakan pelengkap cerita ketangguhan perempuan pesisir. Menurut saya, pemilihan pembaca puisi laki-laki sekiranya kurang mendukung semangat yang hendak dibangun dalam film ini, di mana perempuan menjadi sentral.
Selanjutnya, menyaksikan film Siluet Perempuan Pesisir mengingatkan saya pada perkataan Pluto bahwa segala sesuatu yang masih ada di dalam dunia ide akan menjadi lebih mulia dan substansial saat diekspresikan menjadi sebuah karya nyata yang bisa dinikmati oleh pancaindra. Menurut Pluto, dunia ide akan berubah menjadi sesuatu yang lebih sempit secara pemaknaan. Artinya, ruang ide yang tadinya luas kini telah dibatasi dengan sebuah karya yang membutuhkan nama (judul) untuk menyimpulkan perwujudan karya tersebut. Pada akhirnya, judul inilah yang diharapkan bisa mewakili secara keseluruhan dari sebuah karya tertentu. Oleh sebab itu, judul (yang baik) tidak seharusnya menyimpang dari isi. Untuk hal ini, pemilihan judul film Siluet Perempuan Pesisir sudah representatif menampilan ide gagasan serta keseluruhan cerita film. Akhir kata, pengalaman menonton Siluet Perempuan Pesisir sangat berkesan karena menghadirkan narasi alternatif yang berani dari seorang perempuan pesisir, mendobrak norma tradisional. Poin tesebut diperkuat dengan relevansi antara judul, sinopsis, dan isi yang hampir tanpa celah.