
Editor: Astried Permata
Rumah, jalanan, taman kota adalah tempat-tempat yang seharusnya menjadi teduh bagi siapa saja. Sayangnya, teman ini acap kali berubah menjadi medan horor bagi perempuan. Sebagai seorang laki-laki, aku sering terdiam ketika mendengar kabar tentang pelecehan atau kekerasan. Aku membayangkan saudari, anak perempuan, atau ibu kita berjalan dengan ketakutan. Gelisah ini jelas valid dan muncul lebih dari sekedar rasa prihatin. Kegelisahan kita justru harus dilihat sebagai panggilan untuk bertindak. Kekerasan berbasis gender dan seksual (KBGS) bukan isu yang hanya menyangkut perempuan, melainkan kemanusiaan. Dan sebagai laki-laki, kita punya tanggung jawab untuk mendengar, memahami, dan turut mengintervensi. Tindakan kita, bila digunakan dengan tepat, bisa menjadi bagian dari perubahan yang nyata.
Sejak kecil kita diajarkan bahwa menjadi laki-laki berarti keras, dominan, dan tak boleh tampak lembut. Budaya patriarki ini yang terlihat “lumrah” ternyata menanamkan benih-benih kekerasan. Dominasi menjadi standar maskulinitas, kekerasan dinormalisasi menjadi candaan, dan perilaku yang melecehkan dianggap wajar. Saat dominasi ini tidak kita kritisi, ia akan membentuk pola pikir yang kemudian menjelma menjadi KBGS. Laki-laki harus mengakui bahwa stereotip maskulinitas yang salah kaprah ini adalah akar masalah maraknya kasus KBGS yang menimpa perempuan dan kelompok rentan. Mengubahnya tidak cukup dengan kata-kata, tetapi dengan kesadaran, refleksi, dan tindakan nyata dari setiap laki-laki.
Namun demikian, perlu diingat bahwa menjadi sekutu atau ally tidak sama dengan menjadi pahlawan, merasa jadi sosok yang lebih tinggi. Menjadi sekutu berarti menjadi teman yang hadir, mendukung ruang aman, dan menghormati pengalaman korban. Kita harus berani menegur sesama laki-laki ketika ada yang melakukan catcalling, lelucon seksis, atau perilaku merendahkan perempuan. Sekutu adalah mereka yang tidak diam ketika melihat ketidakadilan dan di saat bersamaan tidak mendominasi narasi korban. Tindakan nyata bisa sesederhana menolak komentar seksis di grup chat, menunjukan keberpihakan terhadap komunitas rentan, atau mendampingi korban ketika mereka membutuhkannya. Jika dilakukan konsisten, setiap langkah kecil dapat membangun gelombang perubahan besar.
Hal yang tidak kalah penting ialah empati dan sikap percaya pada korban. Tidak ada ruang untuk menyalahkan korban (victim blaming). Kita harus mengutamakan kepercayaan dan berefleksi atas privilese yang kita punya. Oleh karenanya, penting untuk menahan diri untuk tidak menghakimi pengalaman yang laki-laki tidak alami. Jika kita lebih peka, laki-laki bisa melihat interaksi di sekitar kita sehari-hari, dari bercanda hingga konteks yang lebih besar di ruang publik. Kita bisa menilai apakah interaksi kita dan lingkungan sekitar mendukung ruang aman bagi perempuan atau justru memperkuat subordinasi perempuan? Empati bukan sekadar kata, tetapi perbuatan yang menuntun kita untuk membangun lingkungan di mana perempuan dan kelompok rentan dapat merasa aman.
Akhirnya, dunia di mana anak perempuan dan kelompok rentan bisa berjalan di mana saja tanpa rasa takut adalah dunia yang perlu kita dambakan. Sudah sepatutnya kita ingin melihat saudari dan ibu kita bisa beraktivitas sehari-hari tanpa was-was. Mungkin saat ini jalan masih panjang untuk mencapai dunia ideal tersebut. Tetapi saya percaya bahwa setiap langkah laki-laki yang sadar akan posisinya dapat membawa kita lebih dekat kepada dunia ideal tersebut. Sikap dan tindakan laki-laki yang sensitif gender penting, bukan untuk menyaingi atau menutupi suara korban, tapi untuk mendukung dan menegaskan bahwa keadilan itu nyata. Ia dapat mekar di hati setiap insan. Dengan demikian ruang aman bukan sekadar mimpi.
Muslih Asy Refal adalah penulis muda yang peduli pada isu keadilan gender dan kemanusiaan. Ia aktif menulis opini dan refleksi sosial untuk mendorong kesadaran masyarakat.